2018 : Thank You, Next.

Tahun 2018 akan segera berakhir dalam waktu hitungan jam. Media sosial saya sudah ramai dengan jadwal acara liburan, kumpul keluarga, ratusan resolusi yang belum tentu akan terealisasikan dan masih banyak hal sukacita lainnya. Saya sendiri cuma senyum aja ngeliatnya.

Salah seorang teman saya bertanya, “Tahun baruan kemana Nya?” Santai saya cuma menjawab, “Di rumah aja, nonton drama korea.” Buka karena karena tidak ada yang ajak tahun baruan atau ingin punya acara atau menikmati gempita pergantian tahun, akhir tahun ini ingin saya nikmati seorang diri, jauh dari keramaian dan tenggelam dalam impian, mimpi, dan serta rasa cukup yang sedang saya rasakan sekarang.

Hampir setiap tahun, setiap malam pergantian tahun selalu saya habiskan di tengah keramaian. Entah dengan keluarga, teman-teman atau bahkan masyarakat. Selalu saya habiskan dengan canda riang dan tawa menyambut tahun baru dan diakhiri dengan melihat berita sampah-sampah menumpuk sehabis perayaan tahun baru di televisi pada pagi harinya.

Dan sekarang saya bosan. Bosan. Bosan dengan keramaian, bosan dengan tawa padahal saya tak ingin tertawa. Bosan dengan hal yang itu-itu saja.

Ya, mungkin memang semakin tua semakin tau mana yang penting mana yang tidak.

*

2018 adalah tahun yang hebat. Saya akui. Tahun ini saya belajar banyak hal. Banyak sekali. Bukan hanya belajar, tahun ini ada hal terbesar yang bisa saya syukuri yang terjadi dalam hidup saya.

Ini memang bukan bagian dari resolusi saya tapi setidaknya Tuhan menjawab dengan sedikit memberi clue atas resolusi saya itu.

Menjadi penulis

Awal tahun, saya punya resolusi ingin menerbitkan sebuah buku. Sebuah buku. Draft ada, cerita ada lengkap dengan tokoh-tokohnya. Tapi di akhir tahun, tidak ada buku yang terbit atas nama saya. Tapi, Tuhan memberikan hal lain. Beberapa tulisan saya hadir di beberapa portal online. Bahkan, blog saya kini ramai dikunjungi orang. Beberapa orang bahkan sudah berani menyebut saya ‘Blogger’. Tapi mungkin, saya lebih berani dengan menyebut diri saya ‘Penulis’

Berada di tahap ini tidak mudah bagi saya. Di awal tahun saya harus mati-matian latihan menulis, menghadiri berbagai macam acara launching buku, bertemu dengan beberapa penulis seperti Andrea Hirata, Irwan Bajang, Dee Lestari, Bernard Batubara, Henry Manampiring dan tentu saja Sapardi Djoko Damono, membuat saya tahu bahwa menulis itu sebenarnya mudah, asal kita mau untuk menulis. Dari mereka saya tahu bahwa jika kita mau menulis, tulisan sederhana saja, bisa diawali dengan kejadian yang kita alami atau kejadian yang tidak kita alami tapi terjadi di sekeliling kita. Tulis 1 atau 2 kalimat, ceritakan apa yang kamu rasakan, kamu lihat dan kamu alami. Jangan pedulikan komentar orang-orang. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa bercerita. Tulisan yang memuat cerita. Dan, Alhamdulillah, saya berhasil.

Memang, tulisan saya masih jauh dari sempurna. Tapi menjadi seorang kontributor penulis untuk salah satu website adalah titik awal saya menasbihkan diri menjadi penulis. Memang belum ada buku yang terbit atas nama saya, memang belum ada, tapi setidaknya ketika mengetahui tulisan saya sudah diakui oleh banyak orang dan bermanfaat, disitu saya tahu bahwa mimpi saya tinggal sedikit lagi.

Solo Traveling

Ini adalah tahun dimana saya bebas pergi kemanapun dan kapanpun, sendirian. Iya sendirian. Jogja, Bali, Bandung, Cirebon, Bogor, Jakarta, Semarang, Anyer, dan masih banyak tempat lainnya di antara kota-kota tersebut yang saya datangi, sendirian.

Awalnya takut? Banget. Tapi ternyata menyenangkan. Dari hal ini saya belajar bahwa orang yang sebenarnya harus saya utamakan untuk bahagia selain orang tua adalah diri saya sendiri. Berjalan, hidup dan menikmati kota lain sendirian tanpa teman atau sanak famili, membuat saya tahu bahwa saya punya rumah untuk saya pulang.

Berhijab

Kalau ada pertanyaan apa hal yang membuat saya syukuri tahun 2018, saya akan menjawab, “Keputusan saya untuk berhijab.”

Keputusan paling besar yang buat di hari ke 18 di bulan Ramadhan tahun 2018. Keputusan yang sampai sekarang tidak membuat saya menyesal. Keputusan yang saya buat dalam keadaan sadar.

Berhijab entah kenapa mempunyai dampak yang sangat besar untuk saya. Hal-hal yang saya rasa tidak baik untuk saya, terhenti tiba-tiba saja. Saya merasa jauh lebih aman, jauh lebih nyaman dengan keadaan saya sekarang. Jauh lebih baik.

Mencintai diri sendiri.

Kayak lagunya BTS ya? Tapi hal inilah yang membuat saya sangat bersyukur di tahun ini. Lihat 3 poin di atas? Isinya adalah hal yang saya syukuri untuk diri saya sendiri.

Bertahun-tahun saya terjebak dalam persepsi “Jika mempunyai pasangan maka hidup akan bahagia.” Benarkah? Mungkin iya, tapi bagi saya saat ini tidak kawan. Saya dalam posisi merasa bersyukur atas apa yang saya punya dan saya nikmati saat ini.

Badan yang mudah sakit karena kecapekan. Panic Disorder yang suka dateng tiba-tiba. Cicilan rumah tangga yang makin membengkak setiap bulannya. Masalah pekerjaan, keluarga, dan pertemanan yang suka datang bertubi-tubi. Belum lagi waktu melajang yang semakin hari semakin lama.

Dan saya bersyukur atas hal itu.

Kenapa? Karena saya punya banyak waktu untuk istirahat dan menghabiskan waktu di rumah dengan keluarga atau dengan kasur saya. Belajar berbicara dengan diri sendiri apa yang saya butuhkan dan saya inginkan, bagaimana cara menenangkan diri sendiri ketika ketakutan di tengah keramaian, dan kini saya tahu bagaimana caranya. Rejeki yang entah datang darimana saja dan datang kapan saja yang tidak pernah saya prediksi di awal bulan. Dari banyaknya masalah, ternyata masih banyak orang yang berkata, “Mba hebat, keadaan saya jauh lebih parah dari Mba.” Bersyukur. Dan melajang? Syukuri saja. Jadi tidak perlu keluar uang setiap malam minggu hanya untuk pacaran. “Tapi kan butuh orang untuk tukar pikiran.” Tenang, masih ada Tuhan.

*

Tahun ini, 2018 dan Tuhan sangat baik sama saya yang masih begini. Semakin hari saya merasa hidup saya tidak ada apa-apanya. Saya tak punya apa-apa yang bisa saya banggakan, tapi hal itulah yang membuat saya bersyukur.

Saya punya keluarga dan teman-teman yang juga sama hebatnya. Dalam bertukar pikiran, dalam pertengkaran, dalam canda tawa. Mereka hebat.

Tapi apa saya akan menetap di tahun 2018? Tidak. Saya tidak mau menetap di tahun ini. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan di usia-usia saya mendatang. 2019 adalah tahun dimana usia saya 27 tahun.

Usia dimana katanya usia yang cukup untuk menikah dan menetap. Saya tidak mau merencanakan, saya hanya ingin menikmatinya. Waktu-waktu melajang saya hingga tiba waktunya saya terikat nanti.

Seorang teman tadi pagi bertanya pada saya, “Anya sekarang udah enggak pernah galau lagi. Bahagia. Udah ketemu sama calon suami ya?” Saya hanya menjawab, “Wah Alhamdulillah kalau dibilang gitu. Masih melajang kok.”

Masalah saya sekarang bukan lagi mencari tambatan hati, masalah saya hanya bagaimana saya memaintenance disorder yang saya punya, dan jika diijinkan saya ingin dipertemukan dengan orang yang mau menerima kekurangan saya tersebut.

Ah, status mah enggak penting lah. Semakin tua, hati semakin damai. Tahu banyak hal yang masih kurang dan masih ingin terus memperbaiki.

*

Untuk kalian yang tidak saya sebutkan satu persatu yang mempunyai peran besar bagi saya di tahun 2018, terima kasih banyak.

Terima kasih atas drama, tangis, tawa, peluk, cium, cerita, amarah dan banyak hal lainnya yang kita alami tahun ini. Januari hingga Desember. Ada banyak nama, ada banyak posisi, ada banyak makna, ada banyak cerita, yang tak bisa saya sebutkan. Terkena di hati, di pikiran. Terima kasih karena pernah membuat saya tak bisa tidur semalaman, membuat saya menangis, membuat saya tertawa, dan banyak hal lainnya.

Berkat kalian, saya tahu makna hidup saya kini. Terima kasih.

Semoga tahun 2019 kita semua diberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah. Agar bisa menikmati hidup yang menyenangkan dengan orang-orang yang kita cintai dan tentu saja mencintai kita.

Terima kasih. Dan, selamat tahun baru !

Iklan

Untuk Mama Bahagia

Hampir semua teman-teman saya memposting ucapan ‘Selamat Hari Ibu’ di media sosial. Saya tidak ikutan karena tanpa perlu memposting, Ibu saya tau kalau saya sayang sama beliau.

*Kepedeean.*

Oke, di hari ibu ini saya mau cerita tentang Mama saya. Tentang perjuangan seorang perempuan berumur 51 tahun yang setiap hari mempunyai keinginan “Kapan ya mama punya menantu?”

*

Namanya Dewi Bahagia Tiawaty. Saya tidak berbohong ketika menyebut ada kata Bahagia dalam namanya. Ia bukan lulusan sarjana, ia hanya perempuan yang sedari kecil mempunyai hobi belajar, orangnya pendiam, tapi ketika permintaannya tidak dituruti ia akan marah besar. Di usianya yang menginjak 24 tahun, ia menikah dengan seorang pria asal Bandung yang kebetulan ngekost di daerah rumahnya.

Tepat 8 bulan setelah pernikahannya, anak pertama mereka lahir. Tidak, mereka tidak melakukan pernikahan ‘Hamil di luar nikah’, hanya saja saya tidak sabar untuk lahir sebelum waktunya. Iya, kelahiran saya prematur.

Di usia saya yang ke 6, Mama memutuskan untuk berhenti bekerja karena Papa yang memintanya, dengan maksud untuk mengurus saya. Setahun setelahnya, adik pertama saya lahir dan 2 tahun setelahnya keluarga mereka lengkap dengan kehadiran adik bungsu saya.

Tepat 16 tahun usia pernikahan mereka dan hadirnya 3 anak perempuan, keluarga ini diguncang permasalahan yang membuat Mama harus berdiri sebagai seorang perempuan bagi ketiga anak perempuannya juga keluarganya. Papa sakit stroke, hingga kini. Tak bisa bicara, tak bisa bergerak seperti orang-orang normal, total Papa kembali ke keadaannya dulu, seperti kondisi anak-anak.

Disaat seperti itu, Mama mulai berpikir. Dia punya 3 anak yang harus ia hidupi. Saya masih berusia 15 tahun, adik pertama berusia 8 tahun dan adik bungsu 6 tahun. Saya masih ingat betul, ketika kami berdua pulang dari sekolah saya karena Mama mengajukan penangguhan biaya bayaran sekolah, Mama berkata pada saya, “Nya, Mama kerja apa ya? Kalian nanti makan bagaimana? Apa Mama kerja sebagai pembantu aja ya?” Kalimat itu masih membekas di kepala saya hingga kini, hingga, “Nya, Mama dapat tawaran untuk jualan kue di tempat Ibunya Qintha (nama adik bungsu). Alhamdulillah.” Itu pertama kalinya, dalam beberapa bulan terakhir setelah Papa sakit, saya bisa melihat Mama kembali tersenyum.

Singkat cerita, dari usaha kuenya tersebut, walau hanya titip, Saya bisa menyelesaikan pendidikan saya hingga jenjang S1, di luar kota pula. Bisa menutupi biaya bulanan kos saya. Waktu saya bertanya kenapa saya tidak boleh kerja sambilan, Mama bilang, “Mama enggak mau kamu sakit. Kamu fokus aja kuliah, biar biaya Mama yang urus.” Walau akhirnya, ketika waktu wisuda tiba, Mama tidak bisa hadir. Itu hal yang paling beliau sesali hingga saat ini.

*

Mama masih berjualan hingga kini. Adik-adik saya sudah besar. Papa masih stroke walau keadaan berangsur membaik. Tapi, dari Mama saya belajar sosok perempuan kuat, tangguh yang saya idolakan hingga sekarang. Mama selalu bilang, “Kamu bertiga perempuan, walau sudah menikah nanti, kamu semua harus tetap bekerja, setidaknya walau bukan untuk anak-anak kamu, tapi setidaknya untuk diri kamu sendiri. Harus bekerja sampai kapanpun. Jadi perempuan jangan ‘mau-mau’ aja. Perempuan harus kuat. Inget itu.”

Mama pun hanya perempuan biasanya yang rindu sosok pendamping. Papa memang masih ada, tapi kondisinya jauh dari kata yang tepat untuk sosok pendamping. Saya ingat Mama pernah bilang, “Mama juga iri kalau ngeliat Ibu-ibu ke pasar dibonceng sama suaminya. Mama kan juga punya suami, tapi Mama enggak bisa kayak gitu.”

*

Saya ini mirip sekali dengan Mama. Makanya mungkin hal itu yang membuat kami sering bertengkar dan selalu berbeda pendapat. Ketika jalan berdua, saya lebih senang jalan cepat bahkan sering meninggalkan Mama jalan di belakang saya. Setiap berangkat kantor, tak pernah rasanya saya mencium tangan Mama saya. Saya lebih banyak diam ketika Mama saya bercerita atau berkeluh kesah, tapi Mama selalu mendengar apa yang saya ceritakan. Bahkan hari ini, jangankan mengucapkan ‘Selamat Hari Ibu’, hari ini pun kami bertengkar karena hal sepele.

Tapi, walau keliatannya saya cuek terhadap Mama saya. Tak pernah memeluk, tak pernah mencium pipi atau tangan, tapi saya tau bahwa Mama saya tau saya sayang dengannya.

Jangan main-main jika kalian berniat menyakiti Mama saya.

*

Mama secara tidak langsung mengajarkan saya menjadi perempuan yang tangguh. Untuk diri saya dan untuk kedua adik saya. Kami bertiga perempuan. Perempuan kini tidak hanya bertugas di rumah, menurut semua perkataan suami. Perempuan kini sudah pintar, sudah mampu menjadi pribadi hebat di tengah tekanan sosial masyarakat.

*

Terima kasih Mama, terima kasih. Mungkin Mama enggak pernah mendengar kalimat ini dari Anya, karena jujur aja, Anya lebih gampang ngomong I Love You ke pasangan dibanding ke Mama, tapi itu enggak mengurangi rasa sayang Anya kok.

Mama harus terus sehat. Mama harus terus sehat biar Mama dan juga Papa, bisa ngeliat anak-anaknya berhasil. Anya belum jadi penulis, Salsa belum jadi pebisnis dan Qintha belum jadi chef handal. Kalau minta doa kayaknya berlebihan, karena kami tau Mama selalu ngedoain kami.

Selamat hari Ibu, Ma.

Semoga terus bahagia. Seperti nama Mama.

Sekarang bukan waktunya menikah, Gengs.

Beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya menawarkan saya sebuah pilihan yang cukup mengagetkan.

“Nya, udah siap nikah? Mau taaruf? Ada teman kantor gue yang udah mau nikah, dia nawarin CV nikahnya. Kalau lo mau, lo buat CV nikah, kasih ke gue.”

Saat itu saya cukup kaget. Cukup mendadak, dengan pertanyaan,“Nya udah siap nikah?” akhirnya saya menjawab, “Insha Allah siap.” Dan saat itu sambil googling bagaimana cara membuat CV nikah, saya berseru dalam hati,

“Ya Allah, yakin nih caranya seperti ini?”

Akhirnya, CV nikah tersebut selesai. Saya kirimkan pada teman saya, dan tak berapa lama, teman saya tersebut mengirimkan saya CV seorang laki-laki yang merupakan temannya. Saya buka file tersebut dan membaca profil yang tertera pada CV tersebut. Saya baca perlahan, lalu tidak sampai 10 menit saya membuat kesimpulan,

“Kasian kalau dia nikah sama gue.” Kenapa?

Pertama, dia jauh lebih muda dari saya. Oke, jika umur tak penting, tapi pengenalan tentang dirinya yang membuat saya memiringkan kepala saya, “Enggak salah nih orang?”

Dia mengatakan bahwa target hidupnya adalah menjadi orang yang sukses dunia akhirat. Hobinya sangat religius, sering mendengar ceramah dan kajian online untuk menambah wawasan. Dia berkata bahwa hal positif dalam dirinya adalah senang menambah wawasan dan mau belajar hal baru. Sedangkan sikap negatifnya, dia bukan orang yang multitasking.

Lalu berlanjut dengan persiapan pernikahan yang sudah ia lakukan sejauh ini. Dia mengatakan bahwa sedang menabung, mempunyai visi punya keluarga sakinah mawaddah warrahmah, misinya dalam pernikahan adalah mempunyai keluarga yang memiliki kepribadian Islami yang berlandaskan aqidah dan sunnah Rasul.

Dan tak luput, ia juga menuliskan kriteria calon yang ia inginkan. Mempunyai badan chubby, tubuh padat, kencang berisi, berumur 17 hingga 25 tahun, penyabar, pandai menjaga lisan, penyayang, pengertian, rajin,serta yang rajin beribadah dan mencintai Allah lebih dari apapun.

Saya langsung berkata ‘Amin’.

Membaca CV-nya saja membuat saya tertawa. Saya malah jadi kasihan dengannya jika berpasangan dengan saya. Saya bukan perempuan yang ia tulis dalam kriterianya. Selain karena dia lebih muda dari saya, dan saya kurang suka dengan pria yang lebih muda, hal lainnya adalah karena dia orang yang sangat religius. Lalu, dia bukan orang yang detail oriented. Pastinya,akan ada banyak hal yang berbeda makna pandangan dari kami dan pasti dia tidak akan bisa menjelaskan hal itu. Terlihat dari kata-katanya ‘senang menambah wawasan baru’. Menambah wawasan itu seperti apa? Mendengar ceramah setiap hari? Itu saja? Lalu jika visinya hanya mempunyai keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, saya rasa hampir semua pengantin juga memimpikan hal tersebut. Dan lihat kriteria yang ia tulis. Ia hanya mau perempuan dengan tubuh gempal, proporsional, yang mana saya sudah pasti tidak akan masuk ke dalam kriteria tersebut karena menjadi perempuan dengan tubuh gempal hanyalah impian sementara. Ya, tipikal laki-laki yang hanya melihat semua dari fisik harus sempurna. Ditambah, saya sudah 26 tahun (dia mau perempuan di rentang usia 17-25 tahun), bukan orang penyabar, tidak pandai menjaga lisan. Lalu penyayang dan pengertian? Ya bisa diaturlah itu. Rajin? Rajin apa?Mencuci? Bersih-bersih rumah? Rajin apa? Rajin beribah? Sholat 5 waktu maksudnya? Atau bagaimana?

Akhirnya, dengan berat hati dan permintaan maaf dari hati terdalam, saya berkata “Maaf, kayaknya enggak deh, kasian dia kalau akhirnya berpasangan sama gue. Dia mending sama orang lain dari pada sama gue.”

Duh, benar-benar hal seperti ini tak ada menariknya.

*

Di awal bulan Desember tahun lalu, saya mempunyai doa yang saya ucapkan hampir setiap hari, mungkin hingga kini. “Ya Tuhan, tolong segera pertemukan Anya dengan jodoh Anya.” Lalu, mulai dari bulan Januari, ketika banyak orang bertanya, “Nya, kapan nikah?” saya dengan pede selalu berkata, “Nanti,Desember.” Atau “Nanti, akhir tahun.” Begitu, hingga sampai di bulan Desember ini dan saya tidak ada keinginan lagi untuk menikah.

Iya, saya kini tidak ada keinginan untuk menikah. Menjalin hubungan lalu berlanjut ke arah pernikahan dan mempunyai anak, tiba-tiba semua keinginan itu hilang seperti gaji yang hanya bertahan 2 hari di awal gajian.

Di kantor, kini ada 2 teman saya yang sudah menemukan jodohnya. Satu sedang menantikan kelahiran anak pertamanya, sedangkan yang satu sedang asyik menjalani kehidupan awal menjadi seorang istri. Hampir setiap hari mereka berdiskusi bagaimana menjadi istri dan calon ibu yang baik. Ketika mereka asyik berdiskusi, saya malah asyik berkhayal tentang liburan ke luar negeri.

*

Lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, apakah pernikahan adalah sumber kebahagiaan? Saya rasa tidak. Saya mau cerita sedikit kenapa pada akhirnya saya bitter akan sebuah jeratan bernama pernikahan.

Suatu ketika teman saya, sebut saja dia R. Dia mengatakan pada saya bahwa saya terlihat bahagia karena selalu traveling, tidak seperti dirinya yang selama 24 jam dan 7 hari harus berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan anaknya, belum lagi suaminya yang selalu dinas bahkan di akhir pekan, “Gue kangen pergi dan traveling tanpa ada yang rewelin. Sekarang, mau tidur nyenyak aja susah.”

Beda R beda lagi L, teman saya yang ini memilih untuk menjadi wanita karir, sayangnya rejeki karirnya bekerja di beberapa perusahaan harus terhenti lantaran dia memilih untuk menikah. Beberapa lowongan pekerjaan sudah ia coba, puluhan interview ia datangi, namun kebanyakan perusahaan menolaknya dikarenakan statusnya sebagai seorang istri. Hingga pada suatu hari ia mengatakan, “Gue nyesel nikah,pekerjaan belum jelas karirnya gimana. Sekarang mau ngelamar kemana-mana semua nolak karena gue sudah menikah. Tahu gini mending enggak usah nikah dulu.”

Lalu ada S, dia seorang jurnalis. Sejak mengenalnya di bangku kuliah, saya menganggapnya sebagai seorang yang penuh dengan ambisi. Ia ingin menjadi seorang jurnalis handal macam Ira Kusno. Alhasil dia pernah magang di beberapa stasiun tv hingga setahun terakhir ia akhirnya benar-benar menjadi seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi swasta besar di Indonesia.Terselip rasa bangga melihatnya berhasil menjadi seseorang yang ia inginkan,hingga ia mengumumkan mundur dari pekerjaan impiannya dan memutuskan untuk menikah.Alasannya sederhana, keluarga calon suami lebih menginginkan perempuan yang lebih banyak diam di rumah, mengurus anak, kalau mau melanjutkan s2 tidak apa-apa asal tidak bekerja sebagai seorang jurnalis karena, “Jam kerjanya tidak pasti.” Dalam postingannya di akun media sosialnya ia mengatakan, “Ini hal yang sangat berat. Gue memutuskan keluar dari pekerjaan gue sekarang karena gue akan menikah. Sebagai orang Sunda menikah muda memang sudah menjadi mimpi gue.” Lalu saya berkata padanya, “Too sad, lo merelakan mimpi lo hanya untuk sebuahpernikahan. Gue orang Sunda dan tidak punya planning untuk menikah muda. Amatsangat disayangkan.” Dan jawabannya, “Life is choice, and i dare myself to letting my dream off, dan gue berhasil mengalahkan musuh terbesar gue yaitu sifat egois gue. Berat, tapi mau gimana lagi.” Dan semua itu ditutup dengan saya yang berkata, “Yeah, everyone has a choice, so did you.”

*

Sebenarnya bukan komitmen bernama pernikahan yang mengerikan dan membuat saya ragu, tapi dengan siapa saya akan terjebak seumur hidup itu. Apakah dengan orang yang menjelaskan, “Saya suka dengan calon istri bertubuh gempal”atau dengan seseorang yang berkata, “Enggak perlulah dia punya ciri fisik seperti apa, yang pasti ketika gue ketemu dia, dan gue yakin dia yang bakal jadi pasangan seumur hidup gue, gue bakal langsung nikahin gue.”

Tapi masalahnya, saya sendiri belum tahu kriteria pasangan seumur hidup saya akan seperti apa. Dan jujur saja,  saya belum melihat kesiapan saya sendiri untuk menjadi seorang istri, seorang rekan dari seseorang untuk seumur hidup.

Mengurus rumah, mengurus anggaran bulanan, mencuci baju,memasak, selalu berkata “iya” terhadap suami, meminta ijin ketika akan bertemu dengan teman, harus selalu menurut apa kata suami, dan hal lainnya membuat saya berpikir 2 kali untuk menikah.

Duh, berpikir tentang hal itu saja membuat saya bergidik ngeri.

Belum lagi jika diberikan keturunan. Apa yang harus saya kerjakan, lakukan, beritahukan, ajarkan, belum lagi banyak hal dari orangtua yang pastinya akan membuat saya pusing.

Iya saya.

Jadi, ketika kemarin teman saya berkata banyak hal tentang pernikahan, persiapan pernikahan, dan hal lainnya tentang pernikahan dan menjadi istri yang baik, saya hanya berkata, “Kayaknya, pernikahan bukan hal yang cocok sama gue deh.”

Dan mereka kaget.

Iya, kata-kata tersebut keluar dari mulut saya, seseorang yang dulu memuja hubungan bernama pernikahan, kini malah menghindarinya.

Karena, sekarang bukan waktunya untuk menikah. Masih banyak yang harus dilakukan.

Misalnya, jatuh cinta.

Mantan (tak) terindah.

Entah kenapa minggu ini hampir semua orang membicarakan mantan kekasihnya masing-masing. Berawal dari pernyataan teman saya yang berkata, “Gue kangen mantan gue deh, wajar kan?” Saya cuma bisa bilang, “Wajar kok. Masa kangen salah.”

Mundur ke beberapa waktu lalu, mantan kekasih saya, setelah sekian lama menghilang dari  dunia sosmed tiba-tiba memposting sebuah foto kendaraan baru miliknya. Dan, salah satu mantan saya yang lain bahkan mengirimi saya sebuah tulisan yang berbunyi “Semangat terus nulisnya ya!” ketika salah satu tulisan saya terbit di salah satu portal online.

Lalu semua hal tentang mantan menjadi perbincangan heboh di dunia maya semalam ketika Bernard Batubara mengatakan, “Niat silahturahmi ke mantan di nikahannya. Pas salaman ditanyain, “gimana novel kamu yang ada cerita tentang aku? laris?” “Alhamdulillah laris. Makasih ya kemarin udah bikin sakit hati aku, sekarang aku kaya raya.”” di laman Twitter miliknya. Lalu ramai-ramai semua membahas hal mengenai mantan.

Ada yang membahas ditinggal nikah sama mantan, ada yang membahas perlu datang ke pernikahan mantan atau enggak, ada yang membahas rindu sama mantan, ada yang membahas masalah komunikasi dengan mantan, ada yang membahas hutang piutang sama mantan makanya jadi susah move on, dan hal lainnya tentang mantan.

Saya sendiri harus mengingat tentang kapan ya terakhir kali membahas full tentang mantan kekasih saya. Karena, sejak putus tahun lalu, saya jarang membahasnya panjang lebar. Mantan kadang muncul di beberapa tulisan saya hanya sekilas, porsinya tak banyak, karena memang saat ini hanya segitu porsinya.

Banyak yang bilang alasan hingga kini saya belum berpasangan lagi dikarenakan mantan saya yang terakhir terlalu ‘hebat’ hingga membuat saya susah move on. Bahkan tak sedikit ketika mereka bertanya, “Siapa mantan terindah lo Nya? Si dia ya?” dengan menyebut nama mantan terakhir saya.

Emang terindah itu apa ‘sih?

*

Mari saya ingat-ingat lagi bagaimana pribadinya.

.

.

.

Ini saya yang tidak mengenalnya terlalu baik selama menjalin hubungan dengannya ataukah memang hanya ini sifat dia? Yang saya ingat dia tidak pernah bisa bangun pagi, kalau tidak terpaksa, tukang telat, selalu ikut-ikutan orang lain, misal ; ketika orang-orang suka main DoTa dia akan ikut-ikutan main, ketika orang lain main Tamiya dia akan mati-matian menabung untuk membeli mobil Tamiya. Caranya bertahan adalah membuat kebohongan dari satu kebohongan ke lain kebohongan. Dan entah kenapa, saya selalu punya cara untuk tahu bahwa ia, dulu, membohongi saya. Dia orang paling pesimis yang pernah saya kenal, padahal saya yakin ia mampu tapi ia tak mau. Pemalas adalah sifat utamanya. Dan ia senang lari dari kenyataan. Mungkin lebih tepatnya, ia senang mengulur-ulur suatu masalah. Hingga akhirnya menumpuk dan ia tak tahu harus apa. Ia Pisces.

Tapi, dia adalah pribadi yang menyenangkan. Dia teman debat sekaligus partner bertukar pikiran paling hebat. Dia yang mengenalkan saya pada banyak hal-hal yang dianggap tabu dan orang yang membuka pikiran saya terhadap hal-hal minor. Dia orang dengan senyum bahagia paling lepas sekaligus orang paling kesepian yang pernah saya kenal.

Sudah.

Sejauh ini hanya itu kenangan tentang dirinya yang masih saya simpan. Kalau berbicara tentang kenangan saya dengannya, duh banyak. Tak ada satupun sudut di kota Bandung yang belum pernah kami datangi.

Sudah.

*

Beberapa waktu lalu, saya memposting sebuah foto tanpa memakai make up. Semua mengatakan saya terlihat menarik tanpa dandanan, saya bilang, “Ya enggak apa-apa, biar nanti pas nikah orang-orang jadi pangling.” Dan teman saya berkomentar, “Iya ya, biar bikin pangling, biar mantan nyesel udah ninggalin.” Saya sih cuma ketawa aja.

Kenapa juga harus membuat mantan kekasih saya nyesel karena sudah meninggalkan saya. Saya percaya kok, mantan kekasih saya tidak pernah menyesal meninggalkan saya. Mau saya berdandan secantik apapun tidak akan membuat ia menyesal, wong dia memilih perempuan lain jadi pasangannya.

*

Dia bukanlah mantan terindah. Dia mantan yang masih membuat saya rindu hal tentangnya, bukan rindu tentangnya, saat ini tapi tak menginginkannya kembali ke hidup saya. Saya tidak ingin dia menjadi pemeran utama dalam tulisan saya di masa depan, karena dia hanya masa lalu yang membentuk saya menjadi seperti sekarang.

Kerinduan saya padanya mungkin hanya didasari dari sisa cinta yang saya miliki untuknya. Kerinduan saya padanya mungkin hanya didasari dari sisa kenangan yang pernah kami miliki.

Kerinduan saya padanya mungkin hanya didasari dari keinginan saya untuk kembali rindu dengan seseorang.

Kerinduan saya padanya mungkin hanya didasari dari keinginan saya untuk kembali membuka hati dan jatuh cinta kembali dengan seseorang.

Jadi, kalau ada yang mengatakan, “Dia itu mantan terindah buat lo ya Nya?” Saya akan mengatakan, “Tidak ada yang namanya Mantan Terindah, karena yang terindah enggak akan pernah menjadi mantan.”

*

Jika kalian membaca tulisan ini dan menemukan rasa benci yang besar padanya dari saya, tidak, saya tidak membencinya.

Saya hanya sedang merindukan hal-hal tentangnya, tapi tak menginginkan dia.

Hanya itu.

 

Tjikini

Tjikini. Sabtu sore. Mungkin tidak berbeda dengan Sabtu sore lainnya. Aku duduk disini. Di tengah. Spot favoritku biasanya selalu berada di dekat jendela, tapi karena sudah ditempati maka aku duduk di bangku ini. Tepat di bawah AC.

Dingin.

Menjelang malam, lampu-lampu dinyalakan. Suasananya sangat romantis.

Bayangkan, sebuah kedai dengan interior bernuansa jaman dulu, dengan cemilan-cemilan masa lalu. Minuman-minuman. Saparila. Lampu bernuansa kuning dan lagu-lagu nostalgia papa mama seperti Wonderful Tonight dari Eric Clapton ditambah 3 meja di sekelilingku dihuni 3 pasang sejoli. Sepasang suami istri dan 2 pasang kekasih.

Semakin malam suasana semakin nyaman, makin menyenangkan, makin hangat. Tape goreng, sop buntut, gado-gado sangat menggoda indera penciumanku. Cokelat hangat yang kunikmati, enak. Pahit. Roti bakar cokelat yang kumakan juga enak, tapi bukan pancake. Aku kan mau pancake.

Sut, jangan ngeluh, makan aja.

Suasana hangat ini terasa sangat kurang. Kurang. Tak ada kamu.

Iya kamu.

Kamu yang aku tak tahu kapan akan datang.

Untuk laki-laki yang membuat saya membuka pintu.

Pertama kali bertemu dengannya saya tidak merasakan apa-apa. Dia seperti laki-laki kebanyakan yang saya kenal. Penuh gombalan, berusaha menarik perhatian saya. Penampilannya juga biasa saja. Tak terlalu menarik.

Hingga, dia bercerita tentang betapa dia kagum dengan cara saya berpikir. Tentang celotehan saya yang tak jelas. Tentang ketidakmampuan saya pada banyak hal. Semuanya.

Hingga dia mengatakan “Boleh kuketuk pintu hatimu?”

Saya mengatakan “Mau main atau mau menetap? Kalau mau main, intip lewat jendela saja.”

Dia mengatakan, “I’m looking for serious relationship, then i met you. Bismillah, biarkan semesta yang menentukan.”

Dan saya, memilih untuk membuka pintu.

*********

Dia bertamu, sebentar. Baru saja beri ia minum. Baru saja kami berbincang tentang film series kesukaan kami. Baru saja kami mengucapkan selamat malam. Baru saja kami berjanji, dia tiba-tiba menghilang.

Dia pergi. Tanpa mengucapkan apa-apa. Tanpa berkata apa-apa.

Minumnya masih tergeletak di meja. Wanginya masih tercium di sudut ruang. Senyumnya masih tebal terlihat di mataku. Tapi dia tak ada.

Kalau tau gini, mending suruh ngobrol lewat jendela aja.

Sekalian, enggak usah dikasih minum.

Jatuh cinta denganmu lewat linimasa.

Pernah kepikiran untuk jatuh cinta dengan seseorang hanya lewat cuitan atau caranya memposting sesuatu di laman media sosialnya?

Enggak pernah? Duh kamu ketinggalan jaman.

***

Suatu ketika saya pernah membuat sebuah tulisan berjudul ‘Laki-laki yang saya cintai di dunia maya’. Sebuah tulisan yang terinspirasi dari fenomena mencintai orang lewat dunia maya.

Mari kita bahas satu-satu. Di jaman serba digital kini, kita sudah tidak asing dengan istilah dunia maya. Dunia maya menurut Wikipedia berarti media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan komunikasi satu arah maupun timbal-balik secara online (terhubung langsung). Dalam dunia maya ini kita akan menemukan banyak hal yang mungkin hanya bisa kita nikmati lewat indera penglihatan kita saja. Diisi oleh ribuan portal berita, tempat belanja online, hingga situs media sosial.

Media sosial kini rasanya sudah menjadi kebutuhan sehari-hari kita semua. Mulai dari masalah pekerjaan, keluarga, pertemanan hingga cinta. Sebut saja situs media sosial yang kita akses saat ini. Instagram, Twitter, Google, Facebook, Whatsapp, Line, Blog, Email dan banyak lainnya. Dari banyak aplikasi media sosial yang kita gunakan, pernahkah salah satu diantaranya membuat kita jatuh cinta?

***

Hal pertama yang Y lakukan setiap pagi adalah mencari ponselnya. Ia cek setiap pesan yang masuk; pesan whatsapp, pesan Line. Tidak ada yang spesial. Whatsapp berisi masalah kerjaan atau broadcast message di grup keluarga berisi ‘Cebong-Kampret’. Ia buka Line, tetap sama. Berita-berita yang terjadi beberapa jam terakhir, gosip-gosip selebritis papan atas yang ia tak tahu, atau berita-berita dari official account yang tak membuatnya tertarik. Ia alihkan gerak ibu jarinya, mengklik sebuah situs media sosial bergambar burung kurus berwarna biru. Twitter. Linimasa Twitter adalah hidupnya. Beberapa kali ia menaik-turunkan jempolnya pada layar ponsel. Dan menemukan X.

X adalah sebuah akun yang sudah 5 tahun ini mengisi harinya. Kehadiran X mampu memberikan secercah harapan kebahagiaan bagi Y. Y mengenal X 5 tahun lalu, saat ia masih menjadi mahasiswi yang baru putus cinta. Kata-kata sendu yang X twit setiap hari mampu memberikan harapan baru bagi Y. Hingga akhirnya, X tak lagi mengeluarkan kata-kata sendu itu berganti menjadi ‘sales marketing’. Unfollow adalah langkah yang pernah Y lakukan saat itu. Y jatuh cinta, X hidup bahagia. 

Hingga, 2 tahun lalu, setelah melewati keadaan patah hati yang edan, Y kembali menemukan X, dan mulai mengikutinya kembali. Kini, X telah berubah. Ia tak lagi mengumbar kata-kata sendu. Ia kini lebih manusiawi. Lebih berkicau tentang kemacetan kota, tentang perilaku warga kota, tentang biaya listrik air yang terus menaik, tentang tetangga yang rese, tentang keinginan menikah, tentang jatuh cinta, tentang keluarganya, tentang hobinya, tentang semua hal. Sekali lagi, X lebih manusiawi, dan Y kembali jatuh cinta.

Kata-kata “Selamat pagi,” dari X saja sudah sanggup membuat Y bahagia. Postingan wajah X yang sedang tersenyum sanggup meringankan stres pekerjaan yang Y rasakan. Sesekali, Y me-reply tweet X. Sesekali mereka bertukar cuitan. Ia amati setiap data, setiap cuitan, setiap kalimat yang X keluarkan. Ia resapi dan ia amini.

Pemikiran X yang santai, tidak mau ribet, membuat Y semakin larut dalam kharisma X. Ada hal yang kurang jika barang sehari saja tidak melihat cuitan atau postingan story Instagram milik X. Kehidupan sehari-harinya, kisah yang ia tulis, gerak yang ia lakukan, gurau yang ia berikan, adalah suplemen harian bagi Y. 

Hingga nama X selalu masuk menjadi nama yang ia sebutkan di setiap akhir ibadahnya. Jika memang ia harus kembali jatuh cinta, sebenar-benarnya jatuh cinta, ia ingin X orangnya. Tapi ia sadar satu hal, ia bukanlah siapa-siapa. Ia tidak cantik, tidak pula menarik, ia tidak punya kemampuan khusus, ia hanya 1 akun diantara puluhan ribu akun yang juga mengikuti X. 

Dengan cara apa X mengetahuinya? Dan dengan cara apa pula Y bisa menjadi segalanya?

***

Beberapa tahun lalu, jika saya dan teman-teman saya membahas lagu dari Savage Garden yang berjudul I knew i loved you before i met you, rasanya kami akan mustahil setuju dengan lagu ini. Pasti kalimat, “Emang bisa jatuh cinta dulu sama orang terus baru deh ketemu? Kayaknya enggak mungkin deh.” Dan sekarang, semuanya menjadi mungkin (saya takut Savage Garden ini punya time machine).

Linimasa kini bukanlah tempat tabu untuk jatuh cinta. Kini, orang akan dengan mudah jatuh cinta dengan seseorang berdasarkan pemikirannya yang unik hanya lewat tulisan-tulisan yang ia buat, gambar-gambar yang ia posting tanpa pernah bertemu. Mereka bisa bertukar pikiran lewat reply, love, liked, repost atau caption. Mereka bisa jatuh cinta kapanpun, dimanapun, dengan siapapun.

Tapi kan itu dunia maya, bisa jadi orang-orangnya maya, tidak maya.

Bagaimana kalau kita balik, orang-orang di dunia nyata adalah orang yang maya atau tidak nyata dan orang di dunia maya adalah orang yang nyata.

Berselancarlah di linimasa dunia maya. Akan ada banyak hal dan cerita dari banyak orang atau seseorang yang sanggup membuatmu berkata, ‘Hei, aku kembali jatuh cinta.’

NB :

Baca tulisan ini sambil mendengarkan;

Tulus – Mengagumi dari jauh.

Savage Garden – I Knew I Loved You Before I Met You.

Glenn Fredly & The Bakucakar – Linimasa.